Kasus pemberian hukuman fisik di lingkungan kerja kembali menjadi sorotan setelah seorang pekerja perempuan di China disebut mendapatkan hukuman berupa squat sebanyak 200 kali karena dinilai tidak mencapai target pekerjaan.
Hukuman tersebut dikabarkan berdampak pada kondisi fisiknya. Setelah menjalani ratusan gerakan squat, pekerja tersebut disebut mengalami masalah pada otot.
Peristiwa ini memicu perhatian publik karena hukuman fisik diberikan sebagai bentuk konsekuensi terhadap pencapaian target kerja. Praktik semacam itu dinilai menimbulkan pertanyaan mengenai batas kewajaran dalam penerapan disiplin di tempat kerja.
Target dan evaluasi kinerja pada dasarnya merupakan bagian dari aktivitas profesional. Namun, penerapan sanksi semestinya tetap memperhatikan keselamatan, kesehatan, serta hak-hak pekerja.
Kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa tekanan untuk memenuhi target pekerjaan tidak seharusnya berujung pada tindakan yang dapat membahayakan kondisi fisik pekerja.
Perusahaan perlu memastikan sistem evaluasi dan pemberian sanksi dilakukan secara proporsional, manusiawi, serta sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.